Kenapa Kamu Menangis, Juli

 

 

Tubuh Romi membujur kaku, jiwanya telah putus dari raganya. Juli, istrinya, menggenggam erat jemarinya, tak kuasa menahan air matanya.

Romi berusaha mengatakan sesuatu pada istrinya, entahlah, Juli mendengarnya atau tidak.

“Juli, kenapa kamu menangis, apa arti tangisanmu itu? Aku tidak mati, Juli. Aku hidup, akan terus hidup, aku akan melanjutkan perjalananku, sudah tiba waktuku untuk melanjutkan perjalanan ini. Juli, tidakkah kau senang mendengar kabar gembira ini? Juli, kalau kamu cinta aku, berhentilah menangis, tersenyumlah untukku. Bukankah kamu bahagia bila aku bahagia.”

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s