Surat Carla

Oleh Erri Subakti

 

Kepadamu yang telah menjadi pendampingku kini.

Dear Ananta,

Saat kau membaca surat ini, aku mungkin sudah tidak lagi ada di sisimu.

Mengenalmu adalah hal terindah untukku. Sosokmu yang arogan tapi entah kenapa aku jatuh hati.

Perdebatan sengit yang sering terjadi di antara kita sebelumnya sempat membuatku malas untuk menerima uluran persahabatan darimu. Namun sisi terdalam dirimu membuatku yakin bahwa sesungguhnya kau pun mencintaiku.

Di malam saat kau akhirnya menyatakan perasaanmu padaku, sungguh aku bahagia sayang. Seperti kuda yang terlepas dari istalnya, berlarian di padang rumput luas, mengendus dan memamah setiap rumput liar nan segar.

Aku serasa berlarian bebas menyusuri bibir pantai yang tak berujung. Ya, seperti cinta kita sayang.. tak berujung.

Saat kita berjanji setia untuk melabuhkan hati kita bersama, melukiskan semua perasaan cinta, membuatku kembali berdiri, bertahan, dan kembali berani bermimpi.

“Gombal kamu.” Sering kukatakan padamu jika kau sedang ‘mabuk rasa’ padaku.

“Ini bukan rayuan gombal,” belamu.

Kalau bukan gombal, apa dong namanya?

“Ini kenyataan bahwa aku benar-benar mencintaimu… sangat!”

Aku sungguh terbuai mengingatmu.

Kamu tau tidak, aku sering senyum-senyum sendiri saat kudapati berbagai kejutan darimu dengan secarik kertas bertuliskan, “I’ve been imposible lately… I’m sorry, I love you so…”beberapa saat setelah kita bertengkar.

Aku suka dengan semua gayamu. Kadang terlihat tak peduli namun kau menginginkan hadirku dalam duniamu. Kau selalu bilang, aku tak terbagi, dan kau pun juga begitu. Kita adalah satu.

Mawar merah yang telah menghitam itu menjadi saksi bisu kita. Menceritakan semua kisah 1001 malam. Kisah sebuah epos tentang sang putri dan pangeran. Atau hanya sekedar cerita tentang persinggahan. Dan kita akan saling menikmatinya. Entah itu cerita tentang malam, rinai hujan, lembayung senja, dini hari, atau tentang kerinduan.

“Kau baik-baik saja kan?”

“Iya sayang, jangan cerewet ah.”

“Jangan lupa makan.”

“Iya aku bukan anak kecil lagi.”

“I love you babe.”

“I love you to honey.”

Itulah kalimat-kalimat cinta, meski tak jarang juga ada kalimat amarah tertera di dalam kisah kita. Aku paling suka jika muncul kalimat-kalimat konyol sesaat setelah kita beradu argumen. Seketika kau hibur aku di ujung kejenuhan rutinitas hari.

Melalui surat ini aku mencari kenyamanan lewat tumpukan kisah masa lalu. Bukankah Tuhan telah menyatukan masa lalu kita untuk dijadikan sebuah simpul ikatan indah. Membentuk sebuah pita dengan warna merahku dan birumu.

Kau tau ada gradasi warna yang terlahir. Ungu… ujungnya membentuk ungu. Sungguh kau hadiahkan aku siluet ungu yang berpendar saat kita menikah.

Ungu duniaku dan duniamu…

“Aku membutuhkanmu.”

“Aku juga sangat membutuhkanmu sayang.”

Warna-warni hidupku adalah jalan dan takdir ku. Semua potret perjalananku dari dulu hingga kini menjadi slide demi slide yang terbingkai dalam memory-ku yang kan abadi…

Padamu yang kini telah ku tetapkan tuk menjadi nakhoda tuk bahtera-ku…

Aku yang telah kau nikahi ini hanyalah perempuan biasa. Terima kasih karena telah memilihku di antara ribuan bidadari di luar sana. Padahal jelas kau tahu, aku perempuan biasa, yang sangat jauh dari sempurna. Begitu banyak kekuranganku, maka ketahuilah…

Kerap sering aku berbuat khilaf, lupa dan salah, hingga sering membuatmu kesal dan bosan. Mungkin aku tak selamanya selalu nampak cantik di matamu, atau mungkin aku kan lebih dahulu meninggalkanmu.

Dan tahukah kau suamiku, ku sembunyikan isak tangis setiap kali menyadari bahwa hidupku tak kan lama lagi. Meninggalkanmu sendiri.

Bukan karena aku tak setia untuk menjadi tempatmu ‘tuk bersandar dan menumpahkan segala penatmu…

Bukan, bukan karena itu…

Tapi karena ada sebuah kejujuran yang harus kukatakan padamu.

Maka jika esok pagi kau dapati mataku tak lagi terbuka sebinar matahari pagi, ku mohon tetaplah tersenyum sepeninggalku… Yakinlah…, kau dan aku tetap bersatu selamanya… dalam kehidupan setelah mati..

===========

Ananta membalik halaman surat Carla tersebut (ke sini).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s