Secangkir Teh

 

Tidak ada yang tiba-tiba. Segala sesuatu selalu melewati serangkaian proses. Seseorang menjadi sangat kuat setelah melewati hujan badai dan gelombang.

Sejenak melepas lelah, sebelum melanjutkan aktivitas berikutnya, Nirina menikmati secangkir teh hangat. Ia raih cangkir, menempelkan di bibirnya, meneguk ramuan tehnya yang wangi dan manis, kehangatan menelusuri rongganya. Secangkir teh usai melewati sepanjang pagi hingga sore hari ini, sering berhasil membuatnya rileks.

Sebelum mengembalikan cangkir itu ke tatakannya di atas meja, Nirina memandangi cangkir yang masih di pegangnya itu, dan ia pun tersenyum, cangkir putih lembut dan cantik itu membuatnya sangat terpesona.

Ia ingat pembicaraannya dengan seorang kawan tadi siang, obrolan ringan mengenai proses penciptaan cangkir. Iya, cangkir itu berasal dari seonggok tanah liat yang diinjak-injak, dicongkel-congkel, dicangkul, direndam, diputar-putar sekencang-kencangnya dalam sebuah cetakan, dan setelah kelihatan bentuknya kemudian dibakar, dicat, dan dijemur hingga kering. Maka jadilah sebuah cangkir yang cantik dan menawan, digunakan untuk menghidangkan teh untuk merayakan kegembiaraan kehidupan.

Tanah liat itu merasakan sakit ketika diinjak-injak, namun tak ada pilihan baginya selain bersabar. Merasakan perih saat dicongkel-congkel, namun tak ada pilihan baginya selain bersabar. Merasakan nyeri ketika dicangkul, namun tak ada pilihan baginya selain bersabar. Merasakan menggigil ketika direndam, namun tak ada pilihan baginya selain bersabar. Merasakan pusing ketika diputar-putar dalam cetakan, namun tak ada pilihan baginya selain bersabar. Merasakan panas ketika dibakar, namun tak ada pilihan baginya selain bersabar. Merasakan ngilu saat dicat, namun tak ada pilihan baginya selain bersabar. Merasakan pedihnya gosong ketika dijemur hingga kering, namun tak ada pilihan baginya selain bersabar.

Sakitnya diinjak-injak, perihnya dicongkel, nyerinya dicangkul, menggigilnya direndam, pusingnya diputar-putar, panasnya dibakar, ngilunya dicat, pedih gosongnya dijemur hingga kering, itu semua adalah rasa dari yang namanya MASALAH. Untuk menjadi pribadi yang cantik dan menawan, manusia diuji dengan masalah. Masalah adalah rahmat yang rasanya pahit. Bagi yang belum mengerti, sangat mudah untuk mengeluh, meratap, menuduh dan putus asa, ketika diberi rahmat yang rasanya pahit itu.

Mensyukuri kehadiran masalah adalah tanda kesediaan diri untuk dititipi kepercayaan. Semakin besar, hebat dan dahsyat sebuah masalah menerjang, terkandung berita gembira di balik itu, kepercayaan besar, hebat dan dahsyat sedang dipersiapkan untuknya.

Tak seorang pun bisa lari dari masalah. Tak seorang pun bisa menghindari masalah. Semakin berlari, masalah akan beranak-pinak. Semakin menghindari, masalah akan beranak-cucu. Satu-satunya jalan yang paling masuk akal, mudah, aman dan menyelamatkan, adalah hadapi masalah.

Hadapi masalah. Selesaikan masalah satu persatu. Selesaikan satu masalah dengan baik, kemudian berlanjut ke masalah berikutnya, selesaikan masalah itu dengan baik, kemudian berlanjut ke masalah berikutnya, selesaikan masalah itu dengan baik, kemudian berlanjut ke masalah berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s