Pak Harto The Untold Stories

13794946201252041541

Oleh: Erri Subakti

Suatu sore di awal tahun 2013, saya kebetulan mampir ke kantor Kompas.com. Beruntung saya sempat berbincang sejenak dengan Kang Pepih Nugraha. Banyak masukan soal tulis-menulis yang saya dapat dari beliau. Salah satunya soal berbagi pengetahuan kepada para pembaca.

“Buku-buku ini, setelah saya baca, ilmunya tidak saya simpan sendiri, saya tulis lagi untuk memberi manfaat atau isnpirasi buat orang banyak…” kira-kira seperti itu dikatakannya sambil menunjuk tumpukan buku di meja kerjanya.

Ya, memang seperti juga saya kerap membaca buku-buku yang sangat menarik lalu terkadang tergelitik untuk berbagi kepada banyak orang. Hanya saja memang diperlukan waktu untuk menuliskan atau mengulasnya.

Kemarin sore, kebetulan ada waktu yang sedikit luang untuk sekadar menuliskan buku apa yang sedang saya baca. Yaitu buku “Pak Harto, The Untold Stories.”

Buku terbitan Gramedia setebal 604 halaman itu sebenarnya berisikan testimonial 113 orang yang dekat dengan Soeharto, dari anak-anaknya, kerabat, mantan pejabat era Presiden Soeharto, hingga ajudan dan bahkan orang biasa, yang sempat berinteraksi dekat dengan Soeharto. Bahkan di dalam buku tersebut termuat testimonial mantan para pemimpin negara-negara tetangga hingga kesaksian seorang (mantan) pengamen jalanan

Para penyusun buku tersebut, yaitu: Donna Sita Indria, Dwitri Waluyo, Anita Dewi Ambarsari, Mahpudi, dan Bakarudin, lebih mengedepankan sisi humanis dan sosial dari mantan presiden (kedua) Indonesia itu. Kisah-kisah di dalamnya ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Hampir tidak ada sisi politik yang ditonjolkan di dalam buku tersebut. Paling hanya soal bagaimana karakteristik seorang pemimpin dalam menghadapi berbagai persoalan.

Seperti yang akan saya kisahkan berikut ini salah satunya adalah tentang seorang mantan pengamen yang menuliskan testimonialnya dengan sudut pandang orang pertama. Tapi melalui artikel ini saya akan mengisahkannya dengan sudut pandang orang ketiga.

Begini ceritanya.

Namanya Munari Ari. Pada pertengahan ‘80-an ia adalah seorang pengamen di sekitar Jl. Diponegoro Jakpus. Ia kerap numpang tidur di depan kamar mayat RSCM.

Bersama temannya, Obos, mereka ngamen dari bioskop Megaria sampai depan kampus UI Salemba. Ia mengamen saat lampu merah menyala dan kendaraan pada berhenti.

Setiap hari Rabu dan Jumat sore Ari selalu melihat iring-iringan mobil yang dikawal paspampres ke arah lapangan golf Rawamangun.

Dan satu hari yg panas setelah sholat Jumat, ia dan Obos, partner ngamennya, tertarik untuk berdiri persis di pinggir jalan dan memberi hormat ala militer kepada rombongan presiden itu.

Paling hanya beberapa detik “upacara” itu dilakukan, sebelum mereka harus disuruh menjauh oleh polisi.

Sebelum iring-iringan presiden lewat tentu saja jalanan disterilkan dulu. Penjagaannya ketat. Tapi Ari dan temannya masih saja suka membandel untuk tetap memberi hormat di pinggir jalan saat presiden melintas.

Karena setiap minggu kerap dilakukan Ari dan temannya ternyata iring-iringan mobil presiden itu menyadari pemandangan serupa saat lewat di Jl. Diponegoro itu. Maka sejak itu mobil presiden pun selalu agak perlahan ketika melewati mereka.

Hingga setelah 2 bulan, satu hari saat mobil presiden Soeharto melalui jalan yang sama di mana Ari dan temannya memberi hormat, mobil berplat no RI 1 itu berjalan sangat perlahan dan kaca belakang mobilnya turun hingga menampakkan wajah Pak Harto yang khas dengan senyumnya.

Spontan Ari pun menyapa gugup, “Selamat siang paaak..”

Pak Harto saat itu hanya tersenyum dan mengangguk. Sejak itu setiap minggunya polisi telah membiarkan mereka melakukan “upacara penghormatan” itu, dan tidak diusir lagi dari pinggir jalan.

Di bulan July ‘86 ada seseorang yg mencari2 Ari. Ia adalah utusan dari mbak Tutut. Utusan mbak Tutut itu lalu membawa Ari ke kantor PT Citra Lamtorogung.

“Ini pengamen yg sering hormat sama bapak ya?” tanya mbak Tutut.

Dan Ari pun mengiyakan. Mereka pun disuruh bernyanyi di depan mbak Tutut.

Akhirnya Ari dan temannya disuruh tampil di depan Pak Harto dan Ibu Tien pada acara ultah pernikahan mereka. Mbak Tutut menyediakan pelatih profesional untuk Ari dan temannya agar tampil dengan lebih baik.

Seusai tampil di depan para menteri itu, Pak Harto berdialog dengan Ari dan menanyakan soal pekerjaannya.

Setelah hari itu Ari memutuskan untuk mencoba melamar di PT Citra Lamtorogung Persada. Dan mbak Tutut menerima lamaran pekerjaan Ari, dan ia pun mulai bekerja di perusahaan tersebut dari karir paling bawah sesuai latar belakang pendidikannya yang tamatan SMA.

Tahun ‘93 Ari diminta kembali untuk menyanyi di depan Pak Harto pada acara ultah perkawinan Bu Tien dan Pak Harto.

Pak Harto menanyakan, “Bagaimana Ri setelah bekerja?”

“Alhamdulillah pak, sekarang saya punya istri dan 5 anak, juga punya rumah.”

Pak Harto manggut-manggut tersenyum, “Tolong ditekuni ya.”
___________________

*Sepenggal kisah yangg diceritakan kembali dari buku “Pak Harto, The Untold Stories”

 

Editor’s Note

Buku ini sarat bermuatan kisah-kisah human interest sebagai bagian dari keseharian Pak Harto sejak muda hingga akhir hayatnya. Kisah tentang seekor burung beo di halaman belakang yang akhirnya menjadi salah bicara setelah Pak Harto berhenti dari jabatan presiden, isyarat dari alam semesta mengenai akan terjadinya suatu peristiwa duka terhadap diri Pak Harto melalui burung-burung camar yang merontokkan bulu-bulunya memenuhi geladak kapal pada saat Pak Harto sedang bermalam di tengah laut, bahkan kisah tentang rumor yang tidak bertanggung jawab di seputar wafatnya Ibu Tien Soeharto, semua terpapar gamblang apa adanya di dalam buku ini melalui penuturan 113 narasumber yang mengalami dari dekat berbagai peristiwa suka duka di sepanjang hidup Pak Harto.

Paperback, 1st ed., 604 pages

Published June 2011 by Gramedia Pustaka Utama

original title                Pak Harto: The Untold Stories

ISBN13                      9789792271317

edition language         Indonesian

 .
1920624_10202311726128162_768164029_n (1)
Suatu Hari Bersama Pak Harto
Cendana, 8 Juni 2003, ultah ke-82 Pak Harto. (Ki-ka) Aien Hisyam, Arimbi Bimoseno, Pak Harto, Mbak Tutut, Christine Lomon.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s