Sudah Beredar: Novel Roller Coaster

Novel Roller Coaster

Paperback, 210 pages
Published September 14th 2016 by Puspa Swara
ISBN13                          9786022160274
Edition Language        Indonesian
Advertisements

Belajar Menulis pada JK Rowling

Setelah mangkrak dua tahun lebih (sampai ujung-ujung kertasnya kecoklatan dimakan panas, hujan, debu), akhirnya tergerak juga membaca buku ini, The Cuckoo’s Calling : Dekut Burung Kukuk. Satu dua tiga hari selesai. Sebuah novel kriminal karya Robert Galbraith yang tak lain dan tak bukan adalah JK Rowling. Ternyata sangat mengasyikkan dalam keseluruhan proses membacanya. Seruuuuu.
 
Cerita dibuka dengan terjadinya sebuah peristiwa besar, sebuah kasus yang nantinya akan dipecahkan oleh seorang detektif partikelir dalam lembar-lembar berikutnya. Cara menuliskannya sangat menyenangkan untuk diikuti. Membaca buku ini serasa melihat gambar bergerak, seperti menonton film.
 
TOKOH DAN KARAKTER
Penokohannya sangat kuat. Dari segi gambaran fisik maupun psikis. Tak ada karakter yang sempurna. Penyampaiannya lentur. Tidak kaku. Cara berpikir para tokoh bisa tergambarkan dengan baik. Apa yang dirasakan para tokoh juga tersampaikan dengan manis.
 
KONFLIK
Ada satu konflik besar dan konflik-konflik kecil yang menarik. Arus cerita menuju pada pemecahan konflik besar, dan sepanjang cerita konflik-konflik kecil antartokoh dimunculkan dengan apik. Setiap tokoh punya masalah. Tak ada satu pun yang bebas dari masalah.
 
DIALOG
Setiap tokoh mempunyai rasa bahasa yang berbeda satu sama lain ketika berdialog. Masing-masing punya ciri khas. Pilihan kata dan rangkaian kalimat disesuaikan dengan karakter.
 
SETTING
Tempat, benda-benda, dideskripsikan dengan detail. Ditulis dengan cara disebar melalui daya tangkap dan pengamatan tokoh-tokoh.
 
PLOT TWIST
Banyak kejutan di sekujur tubuh cerita. Semua tokoh terkait ditampilkan memiliki kemungkinan sama besar melakukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus utama.
 
ENDING
Akhir cerita dieksekusi dengan sangat menawan. Seseorang yang sepertinya paling tidak mungkin melakukan sesuatu karena beberapa sebab, ternyata bisa menjadi sangat mungkin.
 
Aaahhh… kembali melihat naskah sendiri, yang mandek, yang jalan di tempat, yang nggak maju-maju… duuuh bisa nggak ya menulis sekeren itu *curcol :)))))
 
Yang udah baca novel ini, bagaimana kesan Anda? Akan disimak dengan senang hati komentarnya.
 
#InspirasiMenulisNovel

Belajar Menulis pada Ahmad Tohari

Ketika membaca novel trilogi ini, sejak membuka halaman pertama tidak mau berhenti kecuali karena harus melakukan kegiatan yang tidak bisa ditunda. Sinyal bahwa ini novel bagus. Terus… terus… dua hari diselang-seling melakukan ini-itu, selesai. Kemudian seperti ada yang hilang. Kenapa sudah selesai *speechless. Sebuah perjalanan membaca yang sangat emosional, hingga air mata tak bisa dibendung pada bagian-bagian tertentu. Perasaan seperti dibanting-banting. Ngilu.
 
Walaupun cara penulisan berubah-ubah, kadang sudut pandang orang ketiga kadang orang pertama, itu tidak terlalu mengganggu, bisa diterima. Dan secara menyeluruh terasa novel ini ditulis dengan segenap indera.
 
Alam pedesaan, binatang, aktivitas binatang, tumbuh-tumbuhan dilukis dengan warna-warna yang tajam. Jalinan antar cerita begitu padu menjadi satu kesatuan yang utuh dalam tiga buku: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala.
 
Selain gambaran alam yang memukau, keunggulan menonjol pada novel ini adalah adanya ketegangan, alur cerita tidak mudah ditebak, penokohan tidak hitam-putih. Tokoh protagonis tidak selalu putih, tokoh antagonis tidak selalu hitam. Mungkin karena begitu manusiawi, begitu alamiah, sehingga novel ini mampu menyentuh kesadaran manusia yang paling dalam.
 
Tentang ronggeng sendiri terasa absurd, terutama bagi yang belum tahu atau belum pernah mendengarnya, tapi ternyata ada atau mungkin pernah ada. Persinggungan tokoh-tokoh utama dengan peristiwa tregedi kemanusiaan 1965 ditulis secara mengalir alamiah, tidak mengesankan dibuat-buat. Ketika membaca novel serasa membaca kisah nyata, disitulah letak keberhasilan pengarangnya.
 
Rasanya akan menyesal jika melewatkan satu kata pun dalam novel ini. Ahmad Tohari memang layak mendapat gelar sastrawan. Beruntung telah membaca novel ini, walaupun mungkin bisa disebut terlambat mengingat sejarah tahun penerbitan awalnya.
 
Pasti ada yang bisa menggambarkan jauh lebih baik tentang kehebatan novel ini. Yang sudah membaca novel ini, bagaimana pendapat Anda?
 
#MustRead #InspirasiMenulisNovel

Inspirasi Tolkien, JKR dan Roth

12194908_1007014332683692_8505296476587796062_o

PROSES MENULIS JRR TOLKIEN
(Penulis Novel The Lord of the Ring)

1. Berdasarkan surat-suratnya, Tolkien memberikan pengetahuan tentang bagaimana ia menulis. Misalnya, ia tidak pernah secara sengaja memikirkan secara detail tentang cerita yang ingin ia buat sebelum menulis. Namun, Tolkien hanya memiliki kilasan atau garis besar tanpa detail dari tulisan yang akan ia buat dan kemudian pada saat menulis cerita itu akan mengalir dengan sendirinya. Sebuah studi naskah Tolkien melakukan pengembangan cerita bersamaan ketika menulis. Tolkien menulis ceritanya dengan cara trial dan error.

2. Tolkien selalu mulai menulis dengan sebuah nama dari sebuah objek. Setelah itu kemudian dari nama tersebut Tolkien memulai bercerita tentangnya. Tolkien menemukan bahwa legenda bergantung pada bahasa dan sebaliknya. Pada dasarnya,Tolkien memulai menulis dengan nama dan benda-benda, seperti The Ring, Tolkien kemudian akan menentukan arti dari nama atau objek tersebut atau menciptakan sebuah dunia di mana objek berada.

3. Tolkien menggambarkan dirinya tidak mengarang, tetapi menunggu sampai ia “tahu” apa yang terjadi kemudian cerita itu mengalir bersama dirinya ketika menulis. Dia bersikeras bahwa ide cerita atau cerita itu sendiri muncul dalam pikirannya ”as given things”. Dalam sebuah wawancara, Tolkien mengatakan, ”cerita saya tampaknya tumbuh seperti kepingan salju di sekitar potongan debu”. Ketika ”as given things ” tumbuh dalam pikirannya, cerita akan memisah dan kemudian terjadi keterhubungan antar cerita dan berkembang. Dia menulis beberapa cerita secara utuh sedangkan yang lainnya dalam bentuk sketsa.

4. Pada saat menulis Tolkien seakan-akan masuk dalam cerita dan seringkali bertemu dengan karakter cerita. Tolkien mengatakan beberapa kali pada Clyde Kilby, professor bahasa Inggris dan seorang penulis di Wheaton College, bahwa ia telah diberikan cerita sebagai jawaban atas doa. Alih-alih menciptakan, ia merasa bahwa cerita yang ia tulis diungkapkan atau diilhamkan pada dirinya atau melalui dia. Tolkien hanya merekam, melaporkan, atau menemukan apa yang sudah ada. Tolkien berbicara tentang bukunya seperti sebuah kronologi kejadian yang sebenarnya bukan fiksi dan dirinya hanyalah sebagai sejarawan.

___

PROSES MENULIS JK ROWLING
(Penulis Novel Harry Potter)

Novel Harry Potter sempat mengalami ditolak oleh 14 penerbit, sampai akhirnya penerbit ke 15 menerimanya.

Saat ditanya apa rahasianya bisa menulis, Rowling menjawab,”Bacalah segala hal untuk mendapatkan gagasan bagaimana para penulis menulis. Membaca banyak-banyak. Membaca sungguh-sungguh . Bacalah sebanyak yang kau mampu. Membaca akan memberi pemahaman tentang cara menulis yang baik.”

Berikut ini beberapa ucapan Rowling dalam buku Kisah Sukses JK Rowling – di Balik Proses Penulisan Harry Potter :

“Bila aku berhenti menulis, aku merasa hidupku tidak normal.”

“Aku masih menulis dengan tulisan tangan. Aku suka secara fisik berada di antara kertas-kertas.”

“Sangat mengagumkan betapa banyak Anda berbuat sesuatu ketika Anda memiliki waktu yang sangat terbatas.”

“Aku masih terpesona bahwa aku berangkat dari seorang penulis tidak dikenal yang suka antre makanan gratis yang kemudian mempunyai buku-buku yang berada di puncak daftar. Hal ini benar-benar mengagumkan.”

“Aku ragu dapat menulis lagi cerita yang sepopuler Harry Potter.”

“Ketenaran adalah teman yang berubah-ubah.”

“Aku akan menulis sekalipun belum tahu akan diterbitkan atau tidak.”

___

PROSES MENULIS VERONICA ROTH
(Penulis Novel Divergent)

Veronica Roth membutuhkan 48 percobaan untuk menemukan ide yang cukup bagus.

Dalam buku FOUR – A Divergent Collection, Roth bercerita:

“Awalnya aku menulis Divergent dari perspektif Tobias Eaton, seorang bocah lelaki Abnegation yang mengalami masa sulit dengan ayahnya dan mendambakan bisa bebas dari faksinya. Aku mengalami kemacetan setelah menulis tiga puluh halaman karena naratornya tak cocok dengan cerita yang ingin aku kisahkan. Empat tahun kemudian, saat aku membaca kisah ini lagi, aku menemukan karakter yang tepat untuk mendorong kisah ini agar terus maju. Kali ini seorang gadis Abnegation yang ingin menemukan dirinya. Tapi, Tobias tak pernah menghilang – dia masuk ke cerita sebagai Four, instruktur, teman, kekasih, dan pasangan setara Tris. Four selalu menjadi karakter yang ingin aku kembangkan karena dia selalu terasa hidup bagiku saat dia muncul di tulisan. Dia sangat kuat bagiku terutama dari caranya terus mengatasi kesulitan, dan bahkan di beberapa kesempatan, dia justru berkembang karena kesulitan itu.”

___

Happy Reading – Happy Writing